FGD Pengembangan Bawang Putih

Bawang banyak memiliki manfaat mulai dari bumbu penyedap, pengawet aneka makanan, kesehatan, maupun perawatan kulit. Provinsi Bali memiliki potensi pengembangan kembali bawang putih ini, mengingat era tahun 1996 an komoditi bawang putih ini sering diusahatanikan pada subak subak yang ada di Bali. Namun perkembangannya terus mengalami penurunan usahatani bawang putih sedangkan kebutuhannya tiap tahun semakin meningkat. Fakultas Pertanian dan Bisnis Dwijendra University mengadakan Focus Group Discusion (30 Oktober) diruang rapat Rektorat Dwijendra University. Kegiatan ini bertema Penguatan Daya Saing Bawang Putih Lokal dan Stabilitas Pasokan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Provinsi Bali. yang dihadiri oleh Drs.I Made Urip, M.Si selaku Tim Ahli Gubernur Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Perhepi Komda Denpasar, akademisi universitas Mahasaraswati Denpasar, akademisi dari Universitas Warmadewa Denpasar, serta Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Dwijendra. Kegiatan FGD ini dimoderatori oleh Dr. I Nengah Surata Adnyana,S.P,M.Agb prodi Magister Penyuluhan Pertanian. Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Dwijendra Kadek Ayu Charisma Juia Dewi,SP.,MP dalam sambutannya mengatakan kegiatan FGD ini rutin dilakukan mengingat kebutuhan bawang putih memiliki manfaat yang begitu besar, dan Bali memiliki potensi pengembangan dari segi luas tanam,peningkatan produktivitas serta penyelamatan flasma nuftah kesuna lokal untuk dikembangkan kembali. Harapannya FPB memberikan pemikiran dan Masukan serta roadmap pengembangan bawang putih ini ujar Ayu Charisma Julia Dewi.
Sebagai Narasumber FGD ini Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr.I Wayan Sunada,S.P.M.Agb., Prof.Dr.Ir.Ni Luh Kartini,M.S dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Prof.Dr.Ir.Gede Sedana,MSc.,M.M.A. Komsumsi kebutuhan bawang putih secara nasional pada tahun 2024 sebanyak 544,37 ribu ton, pada tahun 2025 meningkat sebanyak 635,50 ribu ton. Bali memiliki potensi pengembangan bawang putih yang sudah ada sejak dulu seperti wilayah songan, kintamani, target penanamannya seluas 250 ha dengan menggunakan varietas lokal seperti kesuna kayu, dimana kebutuhan benihnya per ha sebanyak 800 kg -1200 kg/ha, penanamannya disasar subak subak yang sudah biasa menanam bawang putih ini ujar Sunada. Prof.Kartini menganalisis dari segi aspek kajian penelitian yang selama ini digelutinya. Budidaya Bawang putih dengan pemberian kotoran cacing/kascing, mikoriza, dan kompos akan dapat membuat perakaran tanaman lebih sehat, yang maksimal menyerap unsur hara berdasarkan penelitian yang dilakukan dibeberapa tempat seperti desa Babahan,Tabanan dan Desa Tambakan,Buleleng. Varietas yang dicoba mulai dari varietas lokal maupun luar seperti sembalun dan lumbu putih. Rektor Dwijendra University Prof.Sedana yang mengkaji pengembangan bawang putih dari segi aspek ekonomi dan rantai pasoknya, kalau menguntungkan dan ada kepastian pasar petani akan mau menanam secara profesional apalagi ada kepastian harga dan pasar yang akan diakomodir oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Purusda. Sedana juga membuat roadmap pengembangan agribisnis bawang putih di Bali yang dimulai dari penyediaan benih lokal, saprotan, teknik budidayanya, pasca panen, pemasaran serta lembaga penunjang seperti perbankan untuk permodalannya (Surata)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »