Webinar Sumpah Pemuda 2026, PPKn Undwi Ajak Generasi Muda Bali Lestarikan Budaya dan Hadapi Tantangan Global

DENPASAR – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Dwijendra menyelenggarakan Webinar Sumpah Pemuda 2026 bertema “Masa Depan Bali di Tangan Generasi Muda: Menjaga Budaya, Menjawab Tantangan Global”, Selasa (27/10/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Studi PPKn dan mahasiswa di lingkungan FKIP Universitas Dwijendra, serta kelompok-kelompok pemuda dari wilayah Denpasar dan Badung. Partisipasi lintas kelompok ini menjadi ruang pertemuan bagi mahasiswa dan komunitas kepemudaan untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta memperkuat kontribusi generasi muda bagi masa depan Bali.

Webinar dibuka oleh Ketua Program Studi PPKn Universitas Dwijendra, Putu Ronny Angga Mahendra. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk membangun kesadaran kritis, semangat kolaborasi, dan tanggung jawab generasi muda terhadap keberlanjutan budaya serta pembangunan daerah.

“Sumpah Pemuda harus kita maknai sebagai semangat untuk bergerak dan berkontribusi nyata. Generasi muda Bali perlu memiliki kebanggaan terhadap identitas budayanya, sekaligus mengembangkan kompetensi, karakter, dan wawasan global agar mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan zaman. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terinspirasi untuk mengambil peran di lingkungan masing-masing.” Ujar Putu Ronny Angga Mahendra, Ketua Program Studi PPKn Universitas Dwijendra.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yakni Dr. Yonathan A. Baskoro, S.H., LL.M., M.AP., Anggota DPRD Kota Denpasar Komisi I; I Made Yudi Dwipayana, S.AP., M.AP., Ketua Pasikian Yowana Kabupaten Badung; serta I Nyoman Gede Riky Teresno Linggih, S.Sos., Delegasi PPAP Perwakilan Bali Tahun 2024. Diskusi dipandu oleh Kadek Agus Kusuma Dinata, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi PPKn Universitas Dwijendra.

Membangun Bali melalui kepemimpinan dan partisipasi pemuda

Dr. Yonathan A. Baskoro mengangkat pentingnya kepemimpinan, kebijakan publik, dan keterlibatan generasi muda dalam menentukan arah pembangunan Bali. Tantangan pembangunan, keberlanjutan pariwisata, perlindungan lingkungan, serta pelestarian warisan budaya memerlukan partisipasi pemuda yang kritis dan bertanggung jawab.

“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pewaris kekayaan budaya Bali. Mereka harus mengambil peran sebagai kreator dan pelaku perubahan. Kebijakan pembangunan perlu membuka ruang partisipasi bagi pemuda agar gagasan, kreativitas, dan inovasi mereka dapat berkontribusi terhadap pembangunan Bali yang berkelanjutan.” Sambung Dr. Yonathan A. Baskoro, S.H., LL.M., M.AP., Anggota DPRD Kota Denpasar Komisi I.

Pesan tersebut menegaskan bahwa generasi muda perlu dilibatkan dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan daerah, sekaligus didorong untuk mengembangkan gagasan yang mampu mempertemukan kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan, dan pelestarian budaya.

Yowana sebagai penggerak pelestarian budaya

Narasumber kedua, I Made Yudi Dwipayana, menyoroti peran organisasi kepemudaan dalam menggerakkan partisipasi sosial, memperkuat solidaritas, dan menjaga keberlanjutan budaya Bali. Nilai menyama braya, gotong royong, dan tradisi ngayah perlu terus dihidupkan melalui kegiatan yang relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.

“Tantangannya bukan semata-mata bagaimana mengajak pemuda untuk peduli, tetapi bagaimana menghadirkan ruang dan kegiatan yang membuat mereka mau terlibat. Organisasi kepemudaan harus inklusif, mampu memperkuat solidaritas, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya Bali tidak hanya diwariskan, tetapi benar-benar hidup dalam tindakan generasi mudanya.” Tegas  I Made Yudi Dwipayana, S.AP., M.AP., Ketua Pasikian Yowana Kabupaten Badung

Ia juga menekankan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan budaya Bali secara kreatif serta mendorong keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan pengembangan potensi lokal.

Membawa identitas Bali ke panggung global

Sementara itu, I Nyoman Gede Riky Teresno Linggih membagikan perspektif mengenai pengembangan kapasitas pemuda untuk bersaing di tingkat nasional dan global. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, membangun jejaring, bekerja sama, serta mengambil keputusan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi lingkungan yang semakin kompetitif.

“Pemuda Bali tidak harus meninggalkan identitas budayanya untuk bisa bersaing di tingkat global. Justru budaya dan kearifan lokal dapat menjadi kekuatan yang membedakan kita. Mulailah dari hal kecil: aktif berorganisasi, berani mencoba, membangun relasi, terus belajar, dan menjaga etika. Kesempatan yang lebih luas akan terbuka ketika kita mau mengembangkan diri dan mengambil tindakan nyata.” sambung I Nyoman Gede Riky Teresno Linggih, S.Sos., Delegasi PPAP Perwakilan Bali Tahun 2024.

Perspektif tersebut mengajak mahasiswa dan pemuda untuk memandang pengalaman organisasi sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan, pengembangan karakter, dan perluasan jejaring. Identitas lokal tidak menjadi penghalang kemajuan, melainkan modal untuk menghadirkan kontribusi yang autentik di tingkat yang lebih luas.

Memperkuat peran mahasiswa dan generasi muda

Melalui pertemuan perspektif pemerintah, organisasi kepemudaan, dan pengalaman pengembangan kapasitas pemuda, webinar ini menegaskan bahwa masa depan Bali membutuhkan generasi muda yang mampu menyeimbangkan pelestarian budaya, penguasaan teknologi, integritas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Bagi Program Studi PPKn FKIP Universitas Dwijendra, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pembelajaran kewarganegaraan yang kontekstual, dengan menghubungkan nilai-nilai Pancasila, partisipasi demokratis, kearifan lokal, dan tantangan kehidupan kontemporer.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa kontribusi terhadap daerah dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan kampus, organisasi, desa adat, maupun komunitas. Semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui kolaborasi, kreativitas, kepedulian sosial, serta keberanian menghadirkan perubahan positif.

Menjaga budaya bukan berarti menolak perubahan. Generasi muda Bali perlu merawat akar budayanya, memperluas wawasan, dan menciptakan inovasi agar mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan jati diri (rny26)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »