Integrasi pertanian (dalam arti luas, mencakup tanaman dan perikanan) dengan pengelolaan sampah di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) bukan sekadar menempatkan lahan pertanian di sebelah tempat pembuangan sampah. Makna terdalam dari integrasi ini adalah penerapan ekonomi sirkular (circular economy) dan prinsip zero waste. Pada integrasi ini terjadi aliran materi dan energi yang tidak lagi bergerak linier (produksi, konsumsi dan buang), melainkan berputar dalam sebuah siklus tertutup. Sampah organik yang dulunya dianggap sebagai beban lingkungan dan sumber bau, diubah perannya menjadi sumber daya (nutrisi dan energi) untuk mendorong peningkatan produktivitas tanaman pangan termasuk ikan, demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA saat kunjungan ke lokasi ketahanan pangan di Desa Sibang Gede, Badung, Jumat 5 Juni 2026.
Menurutnya, integrasi ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme yang mandiri, dimana TPS3R menyuplai nutrisi murah dan berkualitas, sementara unit ketahanan pangan memanfaatkan nutrisi tersebut untuk memproduksi karbohidrat, vitamin, dan protein, sekaligus menyerap kembali limbah tanaman menjadi bahan baku kompos baru. Integrasi antara TPS3R dengan program ketahanan pangan adalah langkah super strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Konsep utamanya adalah mengubah masalah (sampah organik) menjadi solusi (media tanam dan pupuk) untuk memproduksi pangan berkualitas secara mandiri. Ketua Ketahanan Pangan Desa Sibang Gede, Made Mura mengungkapkan bahwa integrasikan antara TPS3R dengan tanaman tanaman cabai, terong, kacang panjang, jagung, dan papaya dan ikan lele sebanyak 6 (enam) kolam yang berisikan masing-masing 1.500 lele telah menujukan hasil yang signifikan dan bermanfaat bagi warga desa, seperti para Lansia, Balita, penyandang Diasbilitas dan kelompok masyarakat lainnya. Sampah organik dari rumah tangga (sisa makanan, sayuran, daun) dipilah dan diproses menjadi kompos untuk tanaman, dan maggotnya dimanfaatkan untuk pakan ikan lele.
Sedana yang juga Founder Yayasan Aditya Sedana Artha (YASA) mengungkapkan bahwa integrasi TPS3R dengan ketahanan pangan pada prinsipnya memberikan manfaat, di antaranya adalah mewujudkan ketahanan pangan mandiri (kedaulatan pangan, yaitu menjadi one-stop food estate mini yang menyediakan karbohidrat (jagung), sayur dan buah (cabai, terong, kacang panjang, pepaya), hingga protein hewani (lele) secara mandiri untuk pekerja TPS3R maupun warga sekitar. Selain itu, secara ekonomis, integrasi ini dapat menekan biaya produksi, seperti pembelian pupuk dan pakan ikan, dan memberikan nilai ekonomis yang tinmggi. Dari aspek lingkungan, integrasi TPS3R dengan ketahanan pangan meberikan manfaat sebagai Solusi lingkungan yang estetis yaitu mengubah citra TPS3R yang awalnya terkesan kotor dan berbau menjadi kawasan agro-edukasi yang hijau, asri, dan produktif, karena pengelolaan sampah organiknya cepat diserap oleh maggot dan proses kompos yang benar (Candra).








2 thoughts on “Pengabdian Kepada Masyarakat Dwijendra University Wujudkan One-stop Food Estate Mini Integrasi Pertanian dan Pengelolaan Sampah di Desa Sibang Gede, Badung”
Bisa dijadikan model pengembangan di desa lain🙏
Ketahanan Pangan Desa Sibang cocok dijadikan sebagai tempat belajar pertanian terintegrasi