Kuliah Praktisi Prodi PGSD Universitas Dwijendra Memperingati HUT ke-73 Yayasan Dwijendra: Tekankan “Growth Mindset” bagi Pendidik di Era Modern

DENPASAR – Memperingati HUT ke-73 Yayasan Dwijendra, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Dwijendra menyelenggarakan kuliah praktisi daring bertajuk “Growth Mindset Pendidik sebagai Pemimpin Pembelajaran”. Acara yang digelar pada Jumat (23/1/2026) ini menghadirkan I Dewa Bagus Putu Edwin Pradipta, S.Pd.SD., M.Pd., pengawas sekolah Kota Denpasar, untuk membekali mahasiswa dan dosen mengenai tantangan dunia pendidikan masa kini.

Ketua Program Studi PGSD, Dr. Dewa Ayu Manu Oktaini, S.Pd., M.Pd., menyatakan dalam sambutannya bahwa pendidik masa kini harus bertransformasi. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan pemimpin pembelajaran yang inspiratif. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, growth mindset (pola pikir bertumbuh) menjadi kunci bagi pendidik untuk mengelola diri dan kelas secara sehat serta bermakna.

Dalam pemaparannya, I Dewa Bagus Putu Edwin Pradipta menjelaskan perbedaan mendasar antara growth mindset dan fixed mindset. Seseorang dengan pola pikir bertumbuh meyakini bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan proses belajar. Sebaliknya, pola pikir tetap (fixed mindset) cenderung mengunci potensi diri dan menghindari tantangan.

Edwin menyoroti data PISA 2018 yang menunjukkan rendahnya persentase murid di Indonesia yang memiliki daya juang dalam memecahkan masalah. “Pola pikir adalah fondasi utama, porsinya lebih besar daripada keterampilan dan alat. Apa yang kita pikirkan akan mendikte tindakan dan menentukan hasil akhir,” tegasnya.

Sesi diskusi menyoroti isu hangat mengenai tekanan psikologis guru dan potensi ancaman hukum dari orang tua siswa. Edwin memberikan solusi praktis agar guru tidak perlu takut dalam bertindak asalkan tetap berpegang pada SOP dan regulasi yang berlaku. Ia menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang elegan dengan orang tua untuk menghindari kesalahpahaman dalam mendisiplinkan siswa.

Terkait tantangan finansial yang sering menjadi kendala guru dalam mengembangkan diri, Edwin memotivasi peserta agar tetap mengutamakan peningkatan kompetensi. Menurutnya, inovasi yang dilakukan guru di kelas akan berdampak pada kualitas siswa, yang pada akhirnya akan mendatangkan pengakuan serta peningkatan kesejahteraan secara organik melalui kepercayaan masyarakat.

Kuliah ini diakhiri dengan pesan agar pendidik mampu menyesuaikan diri dengan “kodrat zaman” yakni era di mana siswa sangat lekat dengan dunia digital. Guru harus melek teknologi dan berani keluar dari zona nyaman untuk menemukan metode pembelajaran yang lebih efektif dan interaktif.

Kegiatan ini ditutup dengan pemberian apresiasi kepada narasumber. Universitas Dwijendra berharap melalui kuliah praktisi ini, para calon guru sekolah dasar mampu menjadi agen perubahan yang tangguh dan selalu relevan dengan kebutuhan zaman demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *