Antusias yang tinggi ditunjukkan oleh mahasiswa Pascasarjana Public Policy School, Maryland University, USA dalam kunjungan langsung di Subak Sembung, dan mereka telah mendapatkan tambahan pengetahuan dan pemahaman yang praktis tentang subak sebagai sistem irigasi tradisional di Bali yang berbasis kearifan lokal, yaitu tri hita karana.
Demikian disampaikan oleh Thomas C. Hilde selaku Director, Indonesia and Peru International Programs, School of Public Policy, University of Maryland seusai kunjungan lapangan di Subak Sembung, Kelurahan Peguyangan, Denpasar pada hari Jumat, 2 Januari 2026. Kegiatan sejenis ini sudah berlangsung lebih dari 10 tahun lalu dan diselenggarakan oleh pihak Maryland University secara rutin setiap awal tahun dan bekerjasama dengan Dwijendra University, imbuhnya.
Sementara itu, Rektor Dwijendra Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA. yang didampingi oleh Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dwijendra University, Kadek Ayu Charisma, SP.MP. menyebutkan bahwa pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan di lahan sawah yang diselenggarakan oleh subak harus semakin diperkuat guna dapat menjamin keberlanjutan usahatani untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Bali, meningkatkan pendapatan petani selain menjaga kelestarian budaya Bali, yaitu budaya pertanian yang berbasis subak.
Sedana mengajak para mahasiswa asing tersebut untuk menyusuri jaringan irigasi subak sambil berdiskusi secara langsung tentang aspek teknis pengelolaan irigasi tradisional dan budaya pertanian yang sangat kental dengan nilai-nilai lokal atau kearifan lokal Bali. Pekaseh Subak Sembung, I Made Dara, juga memberikan informasi tentang pengelolaan irigasi subak dan kegiatan ritual yang dilakukan oleh para petani secara individul dan bersama-sama di tingkat subak.
Mahasiswa dari Maryland University tidak semata-mata diajak mengenal subak langsung di lapangan, tertapi juga diberikan pencerahan lebih lanjut tentang subak sebagai sistem irigasi tradisional di Bali melalui kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan di kampus Dwijendra University. Pada kuliah umum tersebut, Gede Sedana mempresentasikan tentang “pengembangan subak secara berkelanjutan” dengan beberapa materi pokok seperti implementasi tri hita karana dalam subak, masalah dan tantangan subak, serta peran pemerintah dan stakeholder dalam pengembangan subak.
Mahasiswa yang berasal dari berbagai negara seperti USA, Chili, China, Afrika Selatan memberikan respon yang positif melalui penyampaian berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Menurutnya, belajar tentang subak di Dwijendra University dalam waktu yang snagat singkat telah memberikan inspirasi dalam kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang komprehensif dan integratif.
Diskusi dipandu oleh Hilde yang juga sebagai Senior Fellow, Center for International & Security Studies at Maryland mengungkapkan bahwa para mahasiswa diharapkan dapat merumuskan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan eksistensi subak sebagai warisan budaya dunia di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pembangunan seperti pariwisata yang sangat pesat.
Dwijendra University yang berada dibawah naungan Yayasan Dwijendra dan memiliki visi yang sangat kental dengan budaya dan kesusasteraan Bali.

Berita ini pernah terbit pada laman atnews.com





